(PUTUSSIBAU POST KAPUAS HULU) Warga Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, resah. Harga Pertalite di tingkat pengecer kini menembus Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per liter. Padahal harga resmi BBM subsidi jauh di bawah itu.
Kondisi ini membuat beban hidup warga perbatasan semakin berat. di tengah harga sembako yang terus naik, pengeluaran harian mereka jadi dobel.
Roni, salah satu warga Badau, mengaku sudah seminggu terakhir terpaksa membeli bensin eceran. Penyebabnya, jarak SPBU jauh dan stok di SPBU terdekat sering kosong.
“Di tengah perekonomian mulai, harga barang semua melonjak. Beras naik, sayur naik. BBM pun ikut naik. Kami ini mau ngadu ke siapa lagi,” ujar Roni.
Bagi warga perbatasan, harga Rp50 ribu per liter bukan angka kecil. Banyak warga Badau menggantungkan hidup dari sepeda motor untuk ke ladang, mengantar anak sekolah, hingga berjualan ke pasar.
“Kalau sekali isi Rp50 ribu, cuman cukup 2-3 hari. Ujung-ujungnya pilih: mau beli bensin atau beli beras,” tambahnya.
Cerita serupa juga disampaikan warga lain. Antrean di SPBU terdekat sering panjang. Kalaupun bisa, jatah pembelian dibatasi. Akibatnya menjadi pengecer satu-satunya pilihan, meskipun harganya membuat kepala pusing.
Mahalnya BBM eceran juga memicu efek domino. Ongkos ojek, biaya angkutan barang, hingga harga sayur di pasar ikut naik naik.
Roni berharap pemerintah daerah dan aparat terkait segera turun tangan. Warga meminta pengawasan distribusi subsidi BBM diperketat agar benar-benar sampai ke masyarakat, tidak menumpuk di tangan pengecer.
“Kami tidak minta banyak. Cukup harga normal, stok aman. Biar kami bisa kerja tenang,” kata Roni menutup.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina maupun Pemkab Kapuas Hulu terkait kelangkaan dan menawarkan harga di Badau.














