(PUTUSSIBAU POST KAPUAS HULU) Upaya menjaga warisan lisan masyarakat Melayu, digencarkan. Sebuah workshop bertajuk “Revitalisasi Pantun Orang Ulu di Bumi Uncak Kapuas” digelar untuk menghidupkan kembali tradisi berpantun khas masyarakat di wilayah Kapuas Hulu.
Kegiatan ini mempertemukan para tetua adat, budayawan, guru, hingga pelajar. Tujuannya memastikan pantun Orang Ulu tidak hanya jadi hafalan, tapi kembali dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
“Hatta menyampaikan bahwa pantun Orang Ulu adalah cerminan cara berpikir, adat, dan kearifan lokal kita. Kalau tidak kita rawat mulai sekarang, 10-20 tahun ke depan bisa hilang,” ujar Hatta dalam berbagainya di pembukaan workshop.
Menurut Hatta, Bumi Uncak Kapuas mempunyai kekayaan bahasa dan sastra lisan yang berbeda dengan daerah hilir. Pantun Orang Ulu memiliki pola, isi, dan nilai yang khas terkait kehidupan di sungai, ladang, dan hutan.
Workshop juga diisi dengan pelatihan penulisan pantun, bedah makna, hingga praktik berpantun di depan umum. Peserta juga diajak mendokumentasikan pantun-pantun lama dari para orang tua di kampung.
“Kita tidak mau anak-anak kita nanti hanya tahu pantun dari buku pelajaran. Mereka harus bisa menciptakan pantun sendiri dengan bahasa dan persoalan mereka hari ini,” tambah Hatta.
Panitia menargetkan hasil lokakarya berupa buku kumpulan pantun Orang Ulu Ke depan, kegiatan serupa akan digulirkan ke kecamatan-kecamatan lain di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu.
Langkah ini disambut baik oleh peserta. Banyak dari mereka mengaku baru menyadari betapa banyak pantun Orang Ulu yang belum pernah ditulis dan hampir terlupakan.
Dengan adanya revitalisasi ini, diharapkan pantun tidak hanya bertahan sebagai arsip budaya, tapi hidup lagi di acara adat, pertemuan, bahkan media sosial generasi muda Bumi Uncak Kapuas
Diterbitkan Pimpinan Redaksi














