(PUTUSSIBAU POST KAPUAS HULU) Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu menyelenggarakan upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dengan upacara inspektur Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan.
Upacara ini menjadi momentum refleksi nasional. Tema yang diangkat tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa ideologi negara bukan sekedar simbol, tetapi harus hidup dalam tindakan nyata.
Upacara dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kapuas Hulu, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta pimpinan BUMN dan BUMD di wilayah Kota Putussibau. Kehadiran elemen lintas ini menunjukkan bahwa semangat Pancasila memang dimiliki semua golongan.
Suasana khidmat terasa sejak pengibaran bendera hingga pembacaan Pancasila dan UUD 1945. Peserta upacara dari ASN, TNI, Polri, pelajar, hingga masyarakat umum mengikuti rangkaian acara dengan tertib.
Dalam amanatnya, Bupati Fransiskus Diaan membacakan pidato tertulis Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. Pesan utamanya tegas: Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teks sejarah.
“Pancasila bukan sekedar teks sejarah, tetapi harus menjadi living ideologi (ideologi yang hidup) dalam setiap kebijakan publik,” tegas Bupati membacakan amanat tersebut.
Menurut amanat BPIP, Pancasila telah terbukti menjadi bintang penuntun yang kokoh bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilainya menjadi pegangan menghadapi berbagai tantangan global, gangguan teknologi, hingga dinamika sosial yang cepat berubah.
Sebagai bangsa besar, Indonesia juga memikul tanggung jawab konstitusional. Yakni juga menciptakan perdamaian yang berdasarkan pada perdamaian, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Itu sebabnya tema “Fondasi Perdamaian Dunia” diangkat pada tahun ini.
Bupati menyoroti tokoh-tokoh penting pemimpin, baik di tingkat nasional maupun daerah. Tugas utama mereka adalah menjamin hak-hak masyarakat kecil agar tidak terpinggirkan oleh pembangunan.
Lebih dari itu, pemimpin juga harus bertekad tegas melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme. Sebab, paham-paham yang memecah perpecahan hanya akan merusak harmonisasi persahabatan yang sudah dibangun puluhan tahun.
“Tanpa sikap tegas dari para pemimpin, maka nilai kebhinekaan yang menjadi napas Pancasila akan mudah terkikis,” ujarnya.
Pesan khusus juga disampaikan untuk generasi muda. Mereka disebut sebagai penjaga masa depan bangsa. Namun menjaga masa depan tidak cukup dengan menyimpan Pancasila di kepala sebagai wawasan semata.
“Generasi muda, sebagai penjaga masa depan, diimbau agar tidak hanya menyimpan nilai-nilai Pancasila sebagai wawasan, tetapi mengamalkannya dalam kehidupan nyata,” lanjut Bupati.
Nilai gotong royong, toleransi, musyawarah, dan keadilan sosial harus terlihat dalam perilaku sehari-hari. Mulai dari menghargai perbedaan di sekolah, aktif menjaga lingkungan, hingga menolak kebencian dan kebencian di media sosial.
Mengakhiri amanat, seluruh elemen bangsa diajak memperteguh komitmen persahabatan. Pancasila yang ditegaskan akan terus menjadi kekuatan utama yang menjaga harkat dan martabat Republik Indonesia di mata dunia.
“Selama nilai-nilai luhur Pancasila terus dijaga dalam setiap denyut nadi anak bangsa, maka Indonesia akan tetap berdiri kokoh, berdaulat, dan memerintah,” pungkas Bupati.
Upacara ditutup dengan pembacaan doa untuk keselamatan bangsa dan daerah Dari Putussibau, semangat 1 Juni kembali dikumandangkan menjaga Pancasila berarti menjaga rumah bersama bernama Indonesia.
Editor Hadi














